Jurnalisme Komunitas Sebagai Pengembang Potensi Daerah

            Pengambilan tema ini beranjak dari antusias kami yang menyadari begitu banyaknya komunitas yang bermunculan di Indonesia. Tidak hanya di kota-kota besar, di berbagai daerah pun komunitas mulai menjalar dan berkawan dengan orang-orang yang memiliki kepentingan yang sama. Sejatinya kepentingan yang mereka usung tersebut menjadi sebuah ideologi yang mereka perjuangkan di dalam komunitas. Rasanya cukup menarik jika keberadaan komunitas ini dikaitkan dengan peranan mereka yang cukup penting di dalam masyarakat. Maka memang perlu adanya suatu media untuk menjembatani komunitas-komunitas tersebut dengan masyarakat.
Ada banyak  media yang dapat digunakan untuk memperjuangkan ideologi masing-masing komunitas. Jurnalistik kiranya mampu menjadi salah satu media perjuangan yang eksklusif, karena mampu mengakomodir keresahan-keresahan untuk disampaikan pada masyarakat. Media komunitas bisa menjadi media alternatif dari media umum. Ketika ada media jurnalistik, tiap individu bisa menyampaikan ideologinya di media tersebut dan ketika mendapat respon dari komunitas lain yang setuju dengan ideologi tersebut maka bisa membangun kesepahaman antar komunitas.
            Jurnalisme komunitas adalah media jurnalistik yang diusung oleh komunitas untuk menyampaikan informasi yang lebih mendetail mengenai isu-isu yang menjadi keresahan di daerah setempat. Informasi tersebut berkaitan dengan kegiatan komunitas yang kemudian disampaikan kepada masyarakat umum. Latar belakang kemunculan jurnalisme komunitas berawal dari tidak adanya keberpihakan media umum terhadap masyarakat, dan lebih mengutamakan profit. Maka terbentuklah jurnalisme komunitas yang memiliki keberpihakan sesuai dengan ideologi mereka.
            Jurnalisme komunitas ini melahirkan keberagaman dan pembahasan yang lebih mendetail karena digarap oleh komunitas yang berbeda. Setiap komunitas mungkin saja memaknai sebuah peristiwa di sekitar mereka dengan cara yang berbeda karena mereka memiliki ideologi yang berbeda.
            Jurnalisme komunitas adalah bagian dari jurnalisme warga, hanya saja memiliki subjek utama komunitas. Perbedaan yang mendasar antara keduanya terletak pada bahasan jurnalisme komunitas yang lebih mendetail dibandingkan dengan jurnalisme warga. Komunitas yang mengalami sendiri apa yang mereka tuliskan, sehingga berita tersebut lebih mendetail dibandingkan jurnalisme warga yang menginformasikan berita berdasarkan apa yang mereka ketahui. Komunitas akan lebih fokus terhadap visi ideologi mereka. Sehingga apa yang disampaikan akan lebih mendalam. Hal ini berbeda denga media umum yang berorientasi pada kecepatan dan sensasional berita.
Jurnalisme komunitas bisa menjadi media propaganda terhadap isu-isu yang sangat erat dengan komunitas tersebut. Akan terjadi banyak sudut pandang yang menelaah terhadap sebuah isu. Sehingga masayarakat sebagai pembaca harus lebih kritis merespon setiap wacana. Melalui media jurnalisme komunitas, diharapkan adanya potensi-potensi terpendam yang ada di suatu daerah dapat diangkat oleh komunitas yang berada di daerah tersebut. Sehingga masyarakat pun bisa lebih mengenali potensi daerah nya masing-masing.
Namun wacana jurnalisme komunitas ini masih terbatas. Belum banyak literatur yang bisa ditemui. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat masih awam mengenai jurnalisme komunitas. Selain itu wacana jurnalisme warga, sebagai embrio dari jurnalisme komunitas, belum meluas atau bahkan belum diakui oleh lembaga tinggi Negara. Masih banyak persoalan yang timbul dari dampak tulisan-tulisan warga. Atau belum jelasnya ketentuan dari jurnalisme warga sendiri.
Adanya wacana ini akan mendorong masyarakat untuk lebih memahami tentang media yang kini semakin hari semakin mudah diakses dan semakin mudah menyampaikan aspirasinya lewat media. Setiap lapisan masyarakat pun semakin mudah memproduksi wacana. Tentu saja wacana ini akan menimbulkan efek, baik positif maupun negatif.
Mudahnya akses media dan produksi media akan meluruhkan otoritas yang lebih didominasi oleh media profit. Otoritas itu kemudian akan bergeser ke setiap daerah dan memunculkan kekuatan di masing-masing daerah. Jika komunitas sebagai lembaga komunal mampu memanfaatkan peluang ini, maka kehidupan dalam daerah pun akan lebih dinamis dan kemudian akan berdampak pada perkembangan daerah.[Dian]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *