Kembangkan Potensi Pangan Daerah Lewat Mading

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Manifest dalam serangkaian acara Pekan Seni Jurnalistik (PENITI) pada Sabtu (22/3) mengajak siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) se-derajat se-Karesidenan Besuki untuk ikut dalam lomba mading tiga dimensi. 
Lomba mading tiga dimensi ini merupakan salah satu dari beberapa serangkaian acara lain dalam PENITI. Workhop Kamera Lubang Jarum telah dilaksanakan pada Sabtu (15/3) dan Talkshow Jurnalisme Komunitas akan dilaksanakan pada Sabtu (5/4). 
“Potensi Pangan Daerah” menjadi tema utama lomba mading. Tema ini dipilih untuk mengajak siswa SMA untuk ikut berpartisipasi dalam mengeksplorasi potensi pangan daerah lewat kaya mading tiga dimensi.
Menumbuhkan kreatifitas siswa SMA dan meningkatkan minat bakat siswa terhadap jurnalistik menjadi tujuan yang ingin dicapai oleh LPM Manifest dengan mengadakan lomba mading tiga dimensi ini. Siswa SMA diajak untuk mengeksplor potensi pangan daerah masing-masing tanpa batasan.
Dalam lantai seluas 4 x 4 meter tiap kelompok diberi waktu selama tiga jam untuk merangkai mading mereka dengan ukuran maksimum 2 x 2 meter. Selain kreativitas dan kesesuaian tema mading yang dipilih, proses dan kerja sama tim juga menjadi salah satu kriteria penilaian. 
Setiap tim memresentasikan hasil mading mereka di depan dewan juri. Perwakilan Komunitas Pemuja Seni (Kompeni), Dewan Kesenian Kampus (DKK), dan Pers Mahasiswa Jember dipercaya oleh panitia untuk menilai mading.
Aneka Potensi Daerah
Setiap tim memiliki mading yang berbeda sesuai dengan tema mading mereka masing-masing. Salah satu tim dari SMAN 1 Jember memilih “Perahu Panganku Melaju” sebagai tema mading mereka. Tim ini mengangkat perikanan sebagai isu utama mereka. Mading ini menggambarkan potensi perikanan Jember yang belum termanfaatkan sepenuhnya. Hanya sekitar 20% potensi perikanan yang telah dimanfaatkan oleh Jember. “Bila kita kembangkan 80% potensi perikanan sisanya maka Jember akan menjadi kota yang benar-benar besar”  kata Novi, ketua tim tersebut.
“Karena kita tahu bahwa bangsa Indonesia adalah tanah surga, di Indonesia sendiri kita dapat menanam apa saja yang kita inginkan. Kita dapat mengolah segala sesuatu. Tanpa kita harus impor pun kita bisa,” ucap Alfian dengan suara lantang saat mempresentasikan mading buatannya. Alfian, peserta dari SMAN Rambipuji memilih untuk bercerita tentang ekspor dan impor produk. Ia juga bercerita tentang lada sebagai potensi pangan daerah yang menjadi komoditas ekspor terbesar.
Arabica Coffee” menjadi tema mading dari tim SMAN Tenggarang Bondowoso. Bondowoso dikenal sebagai kota tape, tapi Bondowoso juga dikenal sebagai penghasil kopi Arabika. Itulah alasan tim tersebut memilih Kopi Arabika sebagai tema utama mading mereka. Sebuah cangkir yang besar yang bertuliskan Coffee break mewakili tema mereka secara visual. Mading ini banyak bercerita tentang “Si Hitam” yang menjadi ikon pariwisata Kabupaten Bondowoso. 
Penjurian
Setalah melalui tahap penjurian yang sangat ketat, akhirnya terpilih tiga pemenang lomba mading tiga dimensi. Tim SMAN 1 Jember terpilih menjadi Juara I, SMAN Tenggarang sebagai Juara II, dan SMKN 5 Jember sebagai Juara III. Terpilihnya juara ini berdasarkan kriteria penilaian meliputi kesesuaian tema, konten isi artikel, rubrikasi, kreativitas, dan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan mading. 
“Perasaan kita jadi juara satu itu senang banget, apalagi kita mengerjakan ini dalam waktu dua hari,” ungkap Barkah, peserta tim SMAN 1 Jember. Tidak ada kendala dalam mencari ide yang sesuai dengan tema yang ditentukan panitia. Namun sisa waktu yang mereka miliki membuat mereka kebingungan memvisualisasikan ide mereka ke dalam mading.[Dina]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *