Pergeseran Makna Hari Ibu

Memaknai Kata ‘Ibu’
Jika Kahlil Gibran memaknai kata ‘ibu’ sebagai kata penuh harapan dan cinta yang keluar dari kedalaman hati paling dalam, lalu bagaimana kalian memaknai kata ‘ibu’? Mungkinkah kata ‘ibu’ sebagai mesin uang yang akan mengeluarkan uang saat kalian minta? Mungkinkah kata ‘ibu’ adalah tempat kalian mengelu-elukan hidup? Mungkinkah kata ‘ibu’ adalah kata yang sama sekali tak pernah kalian ucapkan sedari lahir? Setiap orang bisa saja memaknai kata ‘ibu’ sesuai dengan mereka rasakan. Bahkan kata ibu bisa memiliki banyak makna sebanyak orang yang mendefinisikannya.
Indonesia memiliki sebuah kitab besar yang ajaib. Kitab itu berusaha menyamakan persepsi tiap orang dengan memberikan satu pengertian. Kitab itu disebut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam kamus itu makna ibu memiliki satu arti, yaitu wanita yang telah melahirkan seseorang. Dan makna itulah yang selalu kita pahami hingga kini. Padahal jika kita mau lebih merenungkannya kembali, kita akan menemukan jutaan makna kata ‘ibu’.

Pernahkah kamu berpikir bahwa kata ‘ibu’ merupakan kata yang sakral dan sangat tinggi kedudukannya? Kata ‘ibu’ adalah kata yang pendek namun memiliki  makna yang luas. Budaya patriarkat boleh berbicara bahwa kekuasaan di tangan laki-laki. Seorang bapak (baca: laki-laki) selalu dikaitkan dengan penghormatan dan kekuasaan . Namun itu hanya semata sebuah gelar dan status saja. Lain hal dengan kata ‘ibu’ yang memiliki beberapa keistimewaan dan penggunaan yang sangat luas. Hingga beberapa kata penting yang identik dengan kepemimpinan meminjam kata ‘ibu’. Misalnya saja ‘ibu kota’, ‘ibu jari’, ‘ibu pertiwi’, dan ‘ibu-ibu’ lainnya. Tak pernah sekalipun kita mendengar kata ‘bapak kota’, ‘bapak jari’, atau bahkan ‘bapak pertiwi’. Kata ‘ibu’ selanjutnya dipinjam untuk membentuk idiom yang memiliki ekuivalen dengan makna kedudukan paling tinggi.
Hari Ibu dan Perjalanan Masa Lalu
Sosok ibu dianggap sebagai sosok penting dalam kehidupan. Hingga akhirnya muncullah “Hari Ibu” dan berbagai versi sejarah. Tiap negara memiliki waktu dan tradisi perayaan yang berbeda, tergantung dari sejarah dan filosofi hari ibu bagi mereka.
Sebagian orang Eropa dan Timur Tengah memperingati Hari Ibu pada Maret. Hal itu berkaitan dengan kepercayaan mereka terhadap mitologi Yunani  Kuno. Sekitar 900 hingga 800 SM, di tanah Yunani Kuno pada bulan Maret diadakan perayaan musim bunga orang-orang Greece, sebagai sebuah penghormatan terhadap Rhea, ibu kepada Tuhan mereka.
Lain lagi dengan Amerika Serikat, Australia, Kanada, Belanda, Malaysia, dan Hongkong yang memperingari Hari Ibu pada hari Minggu kedua bulan Mei. Karena hari itu pada 1870 seorang ibu aktivis sosial, Julia Ward Howe, mencanangkan pentingnya perempuan bersatu menghentikan Perang Saudara di Amerika yang belum berserikat.
Indonesia memiliki sejarah yang berbeda tentang Hari Ibu. Setelah pemuda-pemudi bangkit dan mengikrarkan sumpah pemudanya. Giliran 30 organisasi perempuan berkumpul dalam Kongres Perempuan Indonesia I pada 22 – 25 Desember 1928 di Yogyakarta. Dalam kongres tersebut mereka berkumpul untuk menyatukan pikiran dan semangat untuk memperjuangkan kemerdekaan dan perbaikan nasib bagi perempuan. Banyak hal yang diagendakan dalam Kongres Perempuan Indonesia I kaitannya dengan pergerakan perempuan. Namun tak ada yang mengangkat tentang kesetaraan gender.
Pada Juli 1935 dilanjutkan Kongres Perempuan Indonesia II untuk pembentukan BPH (Badan Pemberantasan Buta Huruf) dan menentang perlakuan tidak wajar atas buruh wanita perusahaan batik di Lasem, Rembang.
Penetapan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember baru diputuskan pada saat Kongres Perempuan Indonesia III. Tepatnya adalah saat ditetapkan oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959. Sejak saat itulah masyarakat Indonesia merayakan Hari Ibu.
Memaknai  Hari Ibu Dulu dan Kini
Saat tahun-tahun awal Hari Ibu ditetapkan, Hari Ibu merupakan peringatan untuk mengenang keringat perempuan yang telah berjuang dalam upaya pembangunan bangsa dan sebagai penggerak perempuan. Saat itu banyak sekali pergerakan ibu-ibu untuk membangun dan memperbaiki bangsa melalui program-prgram yang mereka buat.
Bertempat di Solo, peringatan 25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak perempuan. Saat itu juga para ibu mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan pangan pokok.
Jika kita mengingat aksi-aksi heroik dari seorang ibu dalam membangun negara, apakah sepadan dengan perayaan Hari Ibu saat ini?Hari Ibu saat ini lebih dimaknai sebagai hari penghormatan anak terhadap kasih sayang ibunya. Hari dimana ibu dibebastugaskan dari tugas domestiknya seperti mencuci, memasak, belanja, dan bersih-bersih. Tugas domestik itu seringkali kita dengar 3M, yaitu macak, manak, masak. Ada pula yang lebih mengenalnya sebagai 3UR, yaitu sumur, dapur, kasur. Perlakuan pembebasan tugas domestik yang demikian sebenarnya justru menguatkan perbedaan gender pada perempuan dan lebih mengkerdilkan perempuan.
Perayaan Hari Ibu kini hanya sekedar pengalihan tugas domestik ibu kepada anggota keluarga lainnya. Perayaan lain biasa dilakukan dengan sekedar mengucapkan ‘Selamat Hari Ibu’ dan memberikan sebuah kado. Walaupun sebenarnya tak ada yang salah dari peringatan Hari Ibu yang demikian. Namun kita kehilangan makna Hari Ibu yang sesungguhnya. Makna Hari Ibu sebagai representasi perjuangan perempuan dalam pembangunan bangsa dan kemerdekaan diskriminasi gender. Pemaknaan yang demikian yang seharusnya terus kita perjuangkan dan kita ingat di Hari Ibu ini. Setidaknya kita mau untuk kembali mengingat sejarah dan menelaah kembali untuk apa sebenarnya Hari Ibu diperingati. [Dina]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *