Persma dan Media Alternatif *

Posisi pers mahasiswa (persma) kian mengalami distorsi dalam hal kepercayaan dari pembaca. Siapa yang membaca media persma sekarang adalah terbatas pada komunitas pers mahasiswa sendiri. Diakui atau tidak, media persma kian terpojok oleh media-media dengan modal tinggi.
 
Hal ini pun disadari oleh salah seorang alumni persma dari tempo, Mahbub Junaidi. Pernyataannya itu terdengar saat acara talk show di salah satu media tv lokal Jember tentang perspektif pers mahasiswa kekinian. “Persma sekarang tidak seperti dulu. Setelah kebebasan berpendapat dibuka selebar-lebarnya, persma malah kian terjepit oleh media-media mainstrem. Seakan ciri khas pers mahasiswa kabur, karena fungsinya diambil alih oleh media mainstrem itu,” katanya dalam salah satu sesi.
 
Wacana mengenai media alternatif yang selalu digembor-gemborkan seolah hanyalah sebuah slogan saja. Semacam fashion, hanya mengcover permukaan tubuh yang penuh dengan luka. Alternatif seperti apa hingga menjadikan media ini, mampu mengalihkan masyarakat dari media mainstream.
Pertanyaan itulah yang harus segera dijawab segera oleh elemen persma dalam perspektif kekinian. Kebebasan yang “lebih” dari media umum, independensi berdasarkan idealisme mahasiswa yang tidak mempunyai kepentingan apapun untuk kepentingan pribadi atau golongan, dan daya kreatifitas dalam memahami konteks ruang propaganda media. Semua itu menjadi modal besar dalam merumuskan sebuah konsep media alternatif.
Masih mempunyai idealisme dalam bekerja sosial
Sedikit banyak pers mahasiswa selalu mencari perbedaan dengan media mainstream. Perbedaan persma dengan pers umum, menjadi topik awal dalam mengarahkan ideologi pers mahasiswa. Pendidikan yang berbasis sharing diskusi ini ternyata mampu mengarahkan pola pikir mahasiswa angkatan muda. Adanya pers umum sebagai pembanding secara tidak langsung ingin mengidentifikasi jati diri persma sendiri.
 
Persma independen, persma berjuang untuk kepentingan sosial, persma memegang kuat kebebasan berpendapat tanpa ada ketakutan sedikitpun terhadap segala macam ancaman, dan idealisme persma itu tidak bisa dibeli. Itulah persma.
Semua itu direpresentasikan dalam media persma. Media yang mencerminkan karakter pers mahasiswa. Dengan persma seperti itu, seharusnya tidak akan ada kekuasaan yang berani berprilaku menyimpang. Namun itu hanya logika berpikir saja. Kenyataannya, tidak seperti logika tersebut. Hal ini kembali lagi pada posisi tawar persma yang semakin menurun.

Kedekatan dengan komunitas
Persma menjadi salah satu elemen pemuda dengan sejarah yang sangat panjang. Sandangan kata ‘mahasiswa’ sebenarnya mampu memberikan akses yang sangat luas terhadap persma. Dua hal tersebut menjadi modal lain dalam ruang-ruang pergerakan persma. Apalagi sekarang setiap wacana kejurnalistikan sudah mulai dipahami sebagai sebuah kebutuhan dari setiap lembaga.
Sering kali persma mendapatkan tawaran kerja sama dari berbagai elemen organisasi pemuda ataupun komunitas-komunitas lain. Dalam ruang lingkup unit kegiatan mahasiswa  (UKM) misalnya. Persma selalu mengapresiasi kegiatan-kegiatan UKM. Persma pun menjadi mitra yang paling menguntungkan karena proses peliputan agenda kegiatan UKM dapat terekspos dan terdokumentasi.Persma juga dekat dengan segala macam wacana. Entah itu sosial, politik, ekonomi, budaya, pertahanan, keamanan, HAM, kesehatan, pertanian, semuanya hal yang berbau antroposentris. Apalagi acara-acara yang syarat dengan diskusi, pasti persma akan selalu hadir. Basis organisasi intelektual ini selalu mendapatkan asupan energi berupa support penuh dari setiap elemen-elemen tersebut.

Persma sebagai media propaganda paling efektif untuk menggerakkan komunitas-komunitas kepemudaan
Pembawaan persma yang bisa dekat dengan siapa saja ini, bisa menjadi tempat untuk menghimpun kekuatan komunitas dan organisasi kepemudaan. Bahkan persma bisa menguatkan fondasi wacana intelektualitas dari setiap wacana yang dilemparkan oleh setiap komunitas tersebut.

Bentuk-bentuk apresiasi, dan kedalaman reportase persma secara tidak langsung akan memacu komunitas lain yang bermitra dengan persma juga ikut mengasah diri. Mitra yang saling menguntungkan ini akan semakin memacu di masing-masing sisi.

Berkaitan dengan perjuangan dalam membela masyarakat yang tertindas, persma berupaya untuk terus menerus menganalisis kondisi sosial kemasyarakatan. Kepekaan dan kekeritisan, serta upaya dalam mengambil dukungan dari komunitas merupakan gabungan antara media dan pergerakan.

Kemampuan meloby dan mencari dukungan dari organisasi kepemudaan lain, hingga akhirnya menjadi sorotan banyak media, bisa dijadikan pilihan perjuangan persma. Tapi bukan berarti persma hanya terfokus pada propaganda saja. Keakuratan analisa, pemahaman wacana, kedalaman investigasi tentu menjadi hal yang paling utama. Karena propaganda tanpa adanya realita sama saja dengan provokatif.

Pendidikan kejurnalistikan harus tuntas. Karena modal utama itu merupakan modal utama persma. Selain itu kode etik pers harus tetap dijunjung. Persma harus menghilangkan stigma yang telah beredar bahwa setiap pergerakan mahasiswa selalu reaksionis.

Stigma itu telah beredar tatkala sering kali ada aksi mahasiswa dalam demontrasi terjadi bentrok. Persma berpotensi menekan itu. Data-data hasil reportase persma bisa dijadikan rujukan oleh organisasi pergerakan. Sehingga, ketika suatu organisasi pergerakan dalam mengadvokasi sebuah isu, bukan lagi lewat jalur aksi pergerakan. Akan tetapi bisa langsung melalui jalur litigasi.

Menjadi media alternatif
Tinggal bagaimana caranya persma mampu mengkonstruksi semua modal tersebut menjadi formula media alternatif. Media alternatif masyarakat dari media mainstream. Media alternatif mahasiswa dari sebuah bentuk perjuangan. Media alternatif dalam menyatukan pemuda. Media alternatif dalam pendidikan mahasiswa. Media alternatif bukan mengacu pada bentuk, akan tetapi pada alternatif fungsi media pers mahasiswa.

*)penulis Dian Teguh Wahyu Hidayat
  Sekjen PPMI Kota Jember

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *