Pencarian Jati Diri

Berawal dari rekomendasi dari seorang teman saat berbincang di warung kopi kamis malam (5/6). Film yang menceritakan tentang seorang penulis yaitu The Rum Diary dan The Ghostwriter. Penasaran saya pun ingin mendapatkan film itu dengan cara illegal dan itu sudah biasa dilakukan, dengan cara mengunduhnya. Penasaran, sepulang dari warung kopi saya kembali ke sekretariat bermaksud mengunduhnya. Tapi, sebuah film yang sebelumnya telah saya unduh menanti untuk ditonton. Saya simpan dulu niat untuk mengunduhnya dan empat hari kemudian baru terlaksana (9/6).
Dini hari kemarin saya baru saja selesai menonton film itu. The Rum Diary, film yang dirilis pada hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2011. Namun, isinya tidak berhubungan dengan Sumpah Pemuda karena film ini buatan Amerika Serikat. Film berdasarkan sebuah novel dengan judul yang sama karya jurnalis sekaligus novelis Amerika Serikat, Hunter S. Thompson. Diadaptasi dari novel The Rum Diary menuju sebuah film layar lebar sebenarnya telah dimulai semenjak tahun 2000. Namun berbagai rintangan yang terjadi membuat proses adaptasi novel yang telah dirilis semenjak tahun 1998 ini menjadi terbengkalai, hingga akhirnya Graham King membeli hak adaptasi novel The Rum Diary di tahun 2007 dan memulai kembali dari awal proses produksi film ini. Dengan menempatkan Bruce Robinson – yang terakhir kali mengarahkan Jennifer 8 di tahun 1992 – di kursi sutradara dan Johnny Depp – yang sebelumnya turut membintangi adaptasi novel Thompson lainnya, Fear and Loathing in Las Vegas (1997) – memerankan karakter utama di film ini, The Rum Diary akhirnya secara resmi memulai proses produksinya pada tahun 2009.
Karakter Paul Kemp yang diperankan oleh Depp dalam The Rum Diary sendiri disebut-sebut sebagai alter ego dari seorang Hunter S. Thompson. Mengambil setting waktu tahun 1960, Kemp adalah seorang jurnalis berkebangsaan Amerika Serikat yang kemudian merasa jenuh dengan segala kepadatan aktivitas dan pergerakan kota New York dan memilih untuk melanjutkan karirnya sebagai seorang jurnalis di Puerto Rico dengan melamar di harian The San Juan Star yang dipimpin oleh Edward J. Lotterman (Richard Jenkins). Mungkin, dengan hobinya yang suka mabuk-mabukan dan gaya hidupnya yang berantakan, tak akan ada seorang pun yang mau mempekerjakan Kemp. Pun begitu, dengan resume yang sangat impresif, Lotterman akhirnya yakin bahwa Kemp adalah seorang sosok jurnalis yang ia cari selama ini.
Tidak butuh waktu lama bagi Kemp untuk dapat bertemu dan mendalami berbagai intrik sosial dan politik kotor yang terjadi di Puerto Rico. Bersama rekan kerjanya, Bob Sala (Michael Rispoli), Kemp berkenalan dengan Hal Sanderson (Aaron Eckhart), mantan pekerja The San Juan Star yang kini telah beralih profesi menjadi seorang pebisnis handal. Mengetahui bahwa Kemp adalah seorang penulis yang handal, dan juga tidak akan menolak sejumlah uang, Hal kemudian menawarkan Kemp sebuah proyek untuk menuliskan beberapa artikel fiksi tentang proses pembangunan sebuah resor mewah di salah satu pulau Puerto Rico dengan menutupi berbagai keburukan sosial yang terdapat di sekitar pulau tersebut sehingga rencana pembangunan resor mewah tersebut akan mendapatkan dukungan luas dari publik. Diantara segala intrik tersebut, Kemp juga terlibat cinta segitiga dengan tunangan Hal yang sangat jelita, Chenault (Amber Heard), yang kemudian justru memperumit hubungannya dengan Hal.
Jalan utama dari film ini adalah kisah pencarian jati diri Kemp untuk meninggalkan egonya. Ego untuk mendapatkan banyak uang dan menjadi jurnalis yang sebenarnya. Tapi, penyajian film ini masih terlalu mbulet, banyak plot cerita tambahan di dalamnya yang seharusnya bisa dihilangkan. Dari ke-mbuletan itu membuat pendalaman dari masing-masing karakter kurang digali. Ada keterlambatan dalam pemahaman baik karakter maupun jalan ceritanya. Padahal tidak terlalu banyak karakter pendukung kisah Kemp dalam film ini. Sehingga mungkin penikmat film ini kurang bisa benar-benar mengenal karakter yang sedang disaksikan di depan mereka.
Di film ini ada yang menarik menurutku, sabung ayam yang dilakukan oleh Bob. Kukira hanya ada di Indonesia dan sedikit kawasan Asia, ternyata sabung ayam juga ada di Poerto Rico. Saat the Sun Juan Star disita olah pihak bank Kemp, Bob dan Moburg berusaha mendapatkan uang dengan sabung ayam. Mereka membawa ayamnya ke seorang dukun untuk mendapatkan mantra sebelum disabungkan.
Tidak ada masalah berarti dari tata produksi film ini. Penonton akan disajikan gambar-gambar indah pilihan sinematografer Dariusz Wolski akan alam luas Puerto Rico yang ditemani dengan tata musik yang sesuai karya komposer Christopher Young. Depp dan deretan pemeran lainnya juga mampu menghantarkan permainan akting mereka dalam film yang kemungkinan besar akan membutuhkan banyak kesabaran penonton untuk dapat mencernanya.[fly]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *