Komunitas Musik, Peduli Tembakau

“Bukan hanya kopi, tembakau juga seharusnya diperjuangkan. Karena tembakau juga tanaman rakyat yang menghidupi masyarakat Jember,” ungkap Gulvino salah satu panitia pelaksana secret gigs.
“Acara secret gigs ini baru pertama ini,” kata Gulvino. Konsep unik dengan merahasiakan tempat acara, hanya diberikan clue berupa kalimat ‘X mantan deket kok’. Info tempat acara pun baru disebarkan empat jam sebelum acara dimulai, yaitu pada jam tiga sore hari Senin itu juga (10/06). Meskipun demikian, peserta tetap memadati gedung PKM yang memang biasa dipakai untuk kegiatan kemahasiswaan Universitas Jember itu.
Acara musik ini mengusung tema Tobacco Gravity.Emang panggungnya sengaja nggak pakelevel, katanya anak-anak biar bisa ngrasalebih dekat,” kata Gulvino. Dengan panggung tanpa level seakan ingin mengajak penonton untuk memahami bahwa tembakau adalah milik masyarakat Jember. Sebagian besar pengunjung adalah pegiat musik indie, komunitas kesenian, dan pers mahasiswa yang memang peduli dengan tembakau Jember.
“Sebenarnya ada lima penggagas acara ini yang biasa nyangkrukdi warung kopi. Yaitu, Tegalboto, Grebek Sedekah, Info Jember, Jember Coret, dan Cak Wang,” jelas Gulvino.
“Kalau pengisi acara berasal dari teman-teman komunitas musik yang sudah biasa berkumpul. Baja Hitam, The Penkor, Sagavo, Beat Box, Black Dog, dan Sansakerta. Mereka bernyanyi bukan untuk mencari uang. Tapi memang untuk Jember,” ungkap Gulvino.
Acara dengan modal bantingan itu juga ada tiket masuk bagi pengunjung laki-laki, sebesar sepuluh ribu rupiah. Besaran jumlah itu pun digunakan untuk grebek sedekah, membiayai kurangnya dana acara, dan juga membeli produk tembakau asli Jember sebagai bentuk kepedulian terhadap petani Jember. Sedangkan untuk pengunjung perempuan digratiskan.
Untuk lebih mendekatkan tambakau kepada pengunjung, panitia menyediakan lima jenis tembakau. Tembakau Curah Nongko, Kripik Ringan, Kripik Medium, Tambeng, dan Ampenan. Pengunjung bisa langsung mencoba nglintingtembakau sendiri berdasarkan kreatifitas masing-masing. Bahkan salah satu pengunjung menggunakan dua kertas sekaligus.
“Ada aturannya waktu ngambil tembakau. Jadi, tembakau tidak boleh disobek, harus pelan-pelan sampai lepas sendiri. Kalau disobek bisa mempengaruhi rasa,” jelas mas Bibeh, salah satu pengunjung yang berasal dari komunitas kesenian.
Puluhan lagu karya komunitas musik indie Jember terus menyambung mulai dari jam tujuh malam sampai dua belas malam. Berbagai jenis aliran musik juga ikut mewarnai, mulai dari pop, hiphop, reggae, sampai akhirnya ditutup dengan lagu tradisional oleh band Sansakerta, yang memang mengusung tema lagu nusantara.
“Salam nusantara, lestarikan budaya bangsa!,” seru vokalis Sansakerta menutup acara.[dian]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *