Kewirausahaan Sekarang MLM Dengan “Like” *

Lega akhirnya beranda, dinding dan pesan tak lagi dipenuhi “peminta like”. Selama lebih dari seminggu ini banyak bertebaran poster di media sosial (Facebook) tiap membuka beranda. Bahkan di beberapa grup Facebook pun ditebari poster tersebut. Kupikir mereka tak akan berhenti bertebaran sampai menjelang akhir semester, ternyata saya salah. Ada batas akhir bagi mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian (THP) 2010 dan 2011 menjadi “peminta like”. Batas untuk angkatan 2010 adalah 8 April dan 11 April untuk angkatan 2011. Masing-masing diberi rentang waktu seminggu untuk menjadi “peminta like”, mulai tanggal 1 dan 4 April.
Bukan tanpa sebab menjadi “peminta like” ternyata mereka (angkatan 2010 dan 2011) sedang menempuh mata kuliah Kewirausahaan (KWU). Atmosfer untuk mata kuliah KWU tahun ini memang sangat jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Mata kuliah ini biasanya ditawarkan di semester enam untuk jurusan Teknologi Hasil Pertanian (THP) dan Teknik Pertanian (TEP). Kini di  kurikulum KBK mata kuliah ini ditempuh di semester  empat oleh mahasiswa THP angkatan 2011. Jadi ada dua angkatan yang sedang menempuh KWU semester ini. Selain dua angkatan yang menempuh mata kuliah tersebut juga sistem promosi yang digunakan. Untuk tahun ini mereka mulai ber-MLM, bukan Multi Level Marketing yang biasanya kita kenal tapi, Marketing Lewat Medsos. Mereka diwajibkan untuk mengunggah poster produk di Facebook dan mengumpulkan “like” sebanyak mungkin.
Entah bagaimana nantinya saat menjual produk hasil kreasi mereka, masih belum tahu sebelum saatnya tiba. Kemungkinan untuk lebih besar dan heboh dari sebelumnya pasti ada karena KWU tahun ini diikuti oleh dua angkatan. Total kelompok dua angkatan ada 45, dengan rincian 18 kelompok angkatan  2010 dan 27 kelompok angkatan 2011. Tapi, memang ada kemajuan dari tahun ke tahun untuk mata kuliah yang satu ini. Kita flashback dari dua tahun lalu saat menjual produk di dalam kampus FTP dan konsumen pun terbatas civitas akademika FTP. Pada saat itu pun hanya dilakukan selama sehari. Tahun berikutnya mulai beranjak dengan mengadakan gelar bisnis bertema “Agritechnopreneur Fair”. Tempatnya tidak lagi di kampus FTP tapi di halaman parkir Gedung Soetarjo. Untuk konsumen sudah jelas bukan hanya civitas akademika tetapi masyarakat umum dan dilaksanakan selama dua hari.
Kataku dan Mereka
Dari fenomena “peminta like” ini saya bertanya-tanya, dengan promosi mereka yang bisa dikatakan besar namun bagaimana dengan produk mereka. Dari mengamati beberapa poster ada gambar yang mereka ambil dari internet dan bukan gambar asli produk mereka. Entah untuk menarik “penyumbang like” atau mereka belum benar-benar membuat produk itu saya masih belum tahu. Untuk angkatan 2010 yang bertemakan mie terlihat telah mencoba untuk membuat produk mereka. Untuk angkatan 2011 saya pernah bertanya pada sekelumit dari mereka ada yang belum pernah membuat produknya. Baru sebatas angan-angan yang kemudian digambarkan dengan mengubah sedikit gambar dengan kemampuan editing mereka. Memang tidak semua, tapi ada yang seperti itu. Seingat saya dari KWU sebelum berwirausaha dan mempromosikan produk, kita harus memiliki produk terlebih dahulu. Setelah produk yang akan kita pasarkan jadi dan siap jual baru dipromosikan. Apa jadinya saat produk hanya berupa gambar dan tak ada wujud nyatanya? Konsumen belum merasakan produk yang mereka tawarkan namun sudah diminta memberikan “like”. Mau jualan gambar makanan kah?
MLMmerupakan terobosan baru di KWU kali ini, mungkin karena dosen yang mengajar pun baru sehingga cukup untuk mem-blow up media sebelum eksekusi pada saat gelar produk. Sistem yang mungkin mengadaptasi dari promosi dari toko online atau dikenal dengan online shop (olshop) saya rasa cukup efektif. Untuk mengenalkan produk sebelum menikmati hasil kreativitas makanan dari mahasiswa FTP dan membuat konsumen penasaran. Tapi, keresahan dan keluhan muncul dari sistem ini. Dari mahasiswa yang sempat saya tanya melalui Facebook, mereka tidak setuju dengan sistem ini. Jawaban mereka pun beragam, kebanyakan karena membuang waktu dan tenaga serta rawan dengan kecurangan. Poster pertama kali diunggah saat mahasiswa sedang Ujian Tengah Semester (UTS). Hal itu menyita banyak waktu dan tenaga untuk mengunggah dan membagikan link ke teman atau grup di Facebook. Semakin banyak mereka membagikan link, semakin banyak pula peluang mengumpulkan “like”. Di sisi lain, meskipun mahasiswa memiliki akun Facebook, tak semuanya selalu online dan bisa membagi-bagikan link ke teman atau grup. Hal ini menjadikan kendala bagi beberapa kelompok dan menguras tenaga bagi anggota yang selalu online.
Selain itu mereka juga mengungkapkan kecurangan diakibatkan dari pengunggah menggunakan “bom like” yang dalam hitungan detik bisa mendapatkan puluhan, ratusan bahkan ribuan “like”. Sulit untuk mendeteksi siapa pengguna “bom like” karena tidak ada yang tahu pengaturan akun tersebut-kecuali pengguna. Mengunggah berkali-kali poster membuat satu orang bisa memberikan “like” berkali-kali pula. Sepengetahuan saya di beberapa ajang pengumpulan “like”, sistemnya tidak sebebas ini. Poster itu diunggah oleh pihak penyelenggara dan hanya ada satu link untuk mengumpulkan “like”. Ada juga yang memberikan komentar “vote” di  kolom komentar, hal itu dilakukan untuk mencegah para peserta menggunakan “bom like”. Jadi jelas tiap orang hanya bisa memberikan satu suara untuk poster tersebut, kecuali mereka yang memiliki lebih dari satu akun Facebook. Entah memang sengaja dibuat seperti ini atau dosen yang kurang pengetahuan tentang teknologi dan memperhitungkan kelemahan dari sistem ini.
Obyektivitas dari pemberi “like” juga sangat diragukan. “Like” diberikan berdasarkan menyukai poster atau hanya bersimpati pada mereka yang mengunggah poster. Karena “like” dijadikan ukuran penilaian di mata kuliah ini. Pantas saja jika mereka beramai-ramai untuk online Facebook mengamati perkembangan “like”, membagikan link  atau mengunggah poster mereka lagi. “Like” berpengaruh pada nilai dan sebagai syarat lolosnya mereka di tahap selanjutnya. Ada salah satu yang mengatakan sistem ini “kurang pantas” kalau dijadikan-ukuran-penilaian tapi, tidak jadi masalah kalau untuk  media promosi saja. Entah apa makstud sistem penilaian ini.


Matkul dg penilaian gak wajar, membuat kita terus2an fban, mengabaikan tugas lain demi sebuah permainan “LIKE”, mengganggu ketenangan orang lain d dunia maya. Gpp nilai standart, promosi gak harus dilakukan dg cara minta amal “LIKE”.
 
(Mata kuliah dengan penilaian tidak wajar, membuat kita terus-terusan menggunakan Facebook, mengabaikan tugas demi sebuah permainan “LIKE”, menganggu ketenangan orang lain di dunia maya. Tidak apa-apa mendapatkan nilai standar, promosi tidak harus dilakukan dengan cara meminta amal “LIKE”.)
Salah satu pendapat mereka yang cukup jujur dan kesal dengan sistem ini. Dari mereka yang saya tanya, semuanya tidak setuju jika dengan sistem ini apalagi apabila nantinya dilanjutkan atau digunakan untuk tahun depan. Kurangnya batasan dan aturan yang jelas menjadi keluhan mereka dan menambah daftar kelemahan sistem ini. Mempromosikan dan menjualkan produk mereka secara langsung lebih dipilih dari pada dengan sistem seperti ini. Selain untuk menghindari kelemahan di atas mereka merasa menganggu privasi pengguna lain dan ada beberapa yang risih dengan tanggapan dari “penyumbang like”. Beberapa para pengguna Facebook pun mengaku terganggu dengan bertebarannya poster dan permintaan untuk memberikan “like”. Apakah sistem ini menjadi acuan sistem penilaian jika begitu banyak kelemahan, memberatkan mahasiswa dan mengganggu pengguna Facebook lain? Dosen yang berkuasa untuk mengubahnya.[fly/Manifest]
*) Tulisan ini dimuat dalam media tempel Wall Paper edisi #1/ April 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *